Bharma (1)

Si Anak Hilang

Sekali lagi Atok memastikan pesan terakhir yang ia kirim tidak memiliki kesalahan informasi sedikitpun. “Rumah sakit Puspawangi… bangsal Kamboja kamar nomor 7…” gumamnya sambil melihat layar handphone. Kedua kakinya tetap mondar-mandir di koridor bangsal rumah sakit. Matanya masih sesekali menatap pintu besar berwarna hijau di ujung koridor sana, menanti-nanti sosok itu muncul. “Kenapa lama sekali?”

Sementara orang yang dinanti Atok memaksakan diri berlari lebih kencang, meski detak jantung dan napasnya meronta kelelahan di umurnya yang baru saja menginjak empat puluh tahun. Matanya mulai menangkap tulisan ‘RS Puspawangi’ di papan penunjuk arah. “Ibuk bertahanlah…”

***

“Bang Moli…” Atok melihat lelaki yang baru saja menerobos pintu koridor bangsal dengan perasaan campur aduk. Abangnya terlihat tua. Bahkan sangat tua di mata Atok. Tubuh Moli yang menggemuk dengan wajah kusut membuat Atok berpikir apakah Abangnya tidak hidup dengan layak.

“Tok, Ibuk gimana?” tanya Moli begitu sampai tepat di hadapan Atok.

Atok tersadar dari lamunannya. “Ibuk di dalam. Abang lihat sendiri aja.” Ia bergegas membuka pintu kamar. Urusan kami berdua bisa dibicarakan nanti, pikirnya.

Langkah Moli terhenti begitu melihat sosok yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuh kecil itu tersambung ke banyak selang transparan dan mesin-mesin di sampingnya. Dada Moli semakin sesak ketika menangkap raut wajah ibunya.

“Buk?” panggil Moli lirih.

Ibu membuka mata perlahan. “Tok? Ibuk dengar suara Abangmu, Tok.”

Di samping tempat tidur, Atok menghela napas berat.

“Tok?”

“Iya, Buk. Ada Bang Moli di sini.”

Moli mendekat ke sisi ibunya. “Buk, Moli di sini. Betul-betul Moli ini, Buk.”

Ibu menatap Moli lama. keningnya berkerut, memastikan penglihatannya masih bekerja dengan baik. “Betul kau, Mol?” kedua ujung bibirnya mulai naik membentuk senyum.

Moli hanya mengangguk, mengatupkan bibir menahan air matanya agar tidak turun. Ia menggenggam tangan kanan ibunya erat.

“Betul, kan. Moli selalu ada di sisi ibuk.” Ucap Ibu seolah sedang membenarkan apa yang ia yakini selama ini.

“Buk, maafkan Moli bertahun-tahun ninggalin Ibuk dan Atok di rumah.” Tangis Moli tidak bisa lagi dibendung.

Ibu menggeleng lemah. Senyumnya masih terbentuk. “Siapa bilang kamu ninggalin Ibuk? Ibuk bisa lihat kamu setiap hari. Dekat sekali rasanya.”

Moli terdiam. Matanya melirik Atok yang menggeleng pelan, sama-sama tak mengerti maksud Ibu.

“Tapi sekarang Moli sudah betul-betul di sini ya, Buk. Ibuk gak usah khawatir. Ibuk harus sembuh ya?”  Tangan Moli mengusap kepala ibunya.

Ibu mengangguk dan bergumam menatap langit-langit kamar, “Si anak hilang ini, akhirnya tahu jalan pulang.”

Moli dan Atok kembali saling tatap. Terlihat jelas banyak pertanyaan menggantung di antara mereka berdua.

***

Reza menancap gas mobilnya lebih kencang, membelah jalanan jam pulang kantor yang menantang adrenalin. “Kalau sampai dokter dan para perawat itu melihatku lagi kali ini, mereka pasti bersikeras bahwa aku Ayahnya, Jia.”

Jia meringis kesakitan di jok penumpang. “Aku tidak peduli, Za. Lagipula apa susahnya sih mengiyakan saja tuduhan mereka?”

“Ya karena bayi di perutmu itu memang bukan anakku, Jia. Panjang urusannya kalau aku sampai mengaku-ngaku.” Sahut Reza kesal sambil membunyikan klakson beberapa kali. “Menemanimu kontrol tiap bulan saja aku sudah dituduh yang tidak-tidak.”

Jia memegang perutnya dan mengerang keras. “Reza, lebih cepaaat!”

“Ah sialan!” Reza terpaksa membanting setir, melaju menerobos lampu merah.

***

Jia sudah di dalam ruang bersalin sejak dua jam yang lalu. Reza hanya duduk lesu di kursi ruang tunggu. Ia masih memakai baju kantornya. Kemeja biru muda, celana kain hitam, dan sepatu fantofel yang kini sedikit berdebu akibat misi menyelamatkan Jia sore tadi. Bahkan id card masih menggantung rapi di lehernya. Mata Reza menatap ruang bersalin yang tertutup rapat. “Semoga mereka berdua baik-baik saja.” Doanya sepenuh hati.

Tak lama kemudian seorang dokter keluar. Reza sontak berdiri dan menghampiri. “Gimana, Dok?”

Dokter itu tersenyum. “Selamat ya bayi anda laki-laki. Ibunya juga sehat, tapi masih lemah.”

“Dok, harus berapa kali saya bilang, saya bukan… ah sudahlah. Saya boleh masuk?”

Dokter itu mempersilakan. Setelah memasang pelindung sekujur tubuh, Reza masuk dan melihat Jia masih terbaring lemah di ranjang. Tak jauh darinya, ada box kaca kecil, di dalamnya terbaring bayi berkulit merah muda, dibalut kain biru bermotif ikan paus.

Reza mendekati Jia.

“Kalau begini caranya, kau akan sungguh-sungguh dituduh sebagai Ayahnya, Za.” Ledek Jia.

“Biar saja lah. Asal jangan aku yang menanggung semua biayanya.”

Jia tertawa.

“Ibu mau gendong bayinya?” Si suster menawarkan.

Jia mengangguk. Seorang suster mengangkat bayinya, kemudian diletakkan tepat di depan dada Jia. Kini wajah bayi itu mulai terlihat jelas setiap lekuknya. Wajah yang mengingatkannya pada  laki-laki yang ia tinggalkan.

Reza mau tak mau jadi ikut memperhatikan bayi Jia. Tak pernah sekalipun ia tahu siapa ayah biologisnya, seperti apa wajah ayahnya, dan bagaimana Jia bisa memiliki anak dengan laki-laki itu. Hanya satu petunjuk ‘Seorang pria di kampungnya’, yang pernah didapatkan Reza ketika menanyakan si ayah biologis. Tak lebih dari itu.

Melihat tak ada garis mata, hidung, maupun dagu khas Jia yang tercetak di wajah bayi mungil itu, Reza berkesimpulan, “Mirip ayahnya?” bisiknya.

Jia mengangguk. Air matanya menetes satu titik. Perasaan khawatir, bahagia, dan rasa bersalah bergumul menjadi satu. Yang ia inginkan kali ini hanya mendekap bayinya seerat dan sehangat mungkin.

“Tapi kok gak mirip ya sama bapaknya ini?” bisik salah satu suster di sudut ruangan.

“Bukan itu kali bapaknya.” Sahut suster yang lain.

***

“Kalua… kita tidak sendiri. Bapuhmu harus segera kau temukan.”

Kalua tersentak bangun dari tidurnya. Ia duduk dengan kepala pening. Dadanya mengembang berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Keringatnya bercucuran, padahal cuaca malam itu sedang dingin. Kalua menendang selimut dan segera berdiri. Ia mengambil jaket, meninggalkan kamarnya secepat mungkin.

Sesampainya di gerbang Bharma, sudah berdiri Among Retu di sana. “Among…”

Among Retu menoleh. “Amongku mendapatkan mimpi yang sama juga?”

“Aku rasa begitu.” Kalua masih mengatur napasnya. Ia menatap gerbang Bharma yang kini semakin jelas berbentuk seperti gerbang betulan. “Aku tidak bisa masuk ke dalamnya.”

“Bharma merasa ada bahaya mendekat, Amongku. Ini semua karena…”

“Bapuhku.” Lanjut Kalua.

Among Retu mengangguk. “Jia sudah melahirkan. Bapuhmu membawa garis keturunanmu sebagai Among Penjaga. Ia akan diincar orang-orang seperti Angken. Amongku, kau harus cepat kali ini.”

Kalua menelan ludah. “Bapuhku, si anak hilang itu, aku harus segera membawanya pulang.” ucap Kalua memantapkan hatinya.

***

Tetua Termuda

Moli dan Atok duduk lesehan menghadap taman, tepat di depan pintu kamar Ibu dirawat. Lampu taman sudah menyala lengkap, mencoba menerangi langit malam yang mulai gelap. Barangkali juga mencoba untuk menerangi pikiran Moli dan Atok yang sama-sama berkabut.

“Ibuk selalu nanyain Abang, Tok?” tanya Moli.

“Nggak. Pernah Atok tanyain, tapi katanya Ibuk yakin Bang Moli masih hidup dan sehat.” Sahut Atok tak bersemangat.

Moli kembali menyesap rokoknya yang tinggal setengah.

Atok melihat pemandangan itu dengan aneh. Tak pernah sekalipun ia membayangkan Abangnya akan merokok.

“Mungkin Ibuk sudah terlalu marah sama Abang.”

“Kalau memang iya, Ibuk tidak mungkin menyambut Bang Moli sehangat tadi.”

Moli menoleh memperhatikan adiknya lebih seksama. Tubuh Atok semakin berisi dan kekar, rambut berombak yang mulai menyentuh bawah kuping, garis rahang menonjol, warna kulit yang  menggelap, dan sorot mata lebih tegas. Ada satu hal yang tidak berubah bagi Moli, yakni caranya menatap Moli yang seolah jengah, enggan, dan muak. Tatapan yang sama ketika Moli baru saja kembali dari menjelajahi waktu sebelas tahun yang lalu.

Satu pertanyaan yang selama ini masih menggantung di benak Moli. “Kalau kau sendiri, Tok?”

Atok bingung. “Aku… kenapa?”

“Kau masih marah sama Abang?”

Atok melengos. “Apa masih perlu dijawab?” Ia membetulkan posisi duduknya menghadap Moli. “Bang, saking marahnya, aku tidak peduli lagi sama yang namanya Timothy Liam. Buat Atok, Abang udah pergi. Abang sendiri yang memutuskan gak kembali ke rumah, lebih memilih jadi anak hilang. Sejak itu juga, Atok memutuskan gak akan cari Abang lagi.” Suara Atok meninggi. “Kalau bukan karena Ibuk, Atok gak akan menghubungi Bang Moli.”

Moli tetap diam. Ia resapi betul kemarahan Atok sampai ke relung hatinya. “Abang tenggelam dalam penyesalan, Tok.”

“Oh ayolah, Bang.” Atok geli mendengar pengakuan Bang Moli. “Jangan berpikir seolah Abang manusia paling bersalah dan nista di dunia ini. Gak ada artinya buat kami, Bang. Aku dan Ibuk berjuang berdua untuk meneruskan hidup, tanpa Bang Moli, dan kami baik-baik saja!”

Moli membuang muka. Aku pantas mendapatkan ini, batinnya.

“Satu lagi, Bang.” Lanjut Atok. “Mungkin dulu Bang Moli pernah dielu-elukan di desa kita. Lantas itu bukan berarti Bang Moli jadi pusat semesta. Bang Moli bukan segalanya di rumah kami, Bang. Gak semua-mua harus Bang Moli. Gak usah merasa paling penting, Bang!” Atok mengatur napasnya. “Udahlah, Bang. Bang Moli itu perlu ke psikiater.”

Moli tertawa sinis. “Psikiater mahal, Tok.”

“Ya ke dukun lah minimal. Atau belajar solat aja. Kalau stress kan katanya suruh banyak solat biar tenang.” Jawab Atok asal.

Akhirnya Moli tiba pada satu jawaban. Atok semakin dewasa dan realistis, sementara dirinya semakin kehilangan arah.

“Aku hanya mencoba menerima kenyataan yang ada, Bang.” Suara Atok lebih lembut. “Abang memutuskan untuk pergi, silakan. Kali ini aku tidak akan menahan. Abang memutuskan untuk kembali, aku akan terima. Asal Bang Moli tahu, aku akan selamanya muak dan marah sama Bang Moli. Tapi berputar di situ terus tidak akan menyelesaikan apa-apa.”

Ada jeda diam cukup lama sebelum Moli bersuara lagi. “Terima kasih, Tok. Terima kasih sudah begitu dewasa menghadapi masalah di keluarga kita.”

“Sekarang aku lebih pintar dari Bang Moli.”

“Abang setuju.”

“Priotitas kita sekarang Ibuk, Bang. Atok pengen Bang Moli tidak terus berkutat memikirkan kesalahan Bang Moli.” Atok tak tahan lagi. Ia berdiri. “Aku mau ke kantin. Bang Moli tunggu Ibuk.” Ucapnya lebih tepat seperti perintah.

Moli melihat punggung Atok yang menjauh. Adik kecilnya itu dulu kurus dan lincah, tak banyak omong, kini betul-betul berubah  berkat kerasnya tempaan kehidupan.

***

Selembar banner usang bertuliskan ‘Kantin Ajaib’ tergantung tepat di depan pintunya. Hanya ada bilik dapur kecil dan meja serta kursi memanjang untuk pembeli. Seorang pria terlihat duduk menunggu pesanannya ketika Atok datang. “Mas, indomie goreng pake telor satu, sama kopi tubruk susu satu ya.” seru Atok.

“Siap, Bos. Duduk dulu ya. Ditunggu sebentar.” Sahut si penjaga kantin.

Atok duduk di sebelah pria berkemeja biru muda. Pria itu tersenyum ke arah Atok. Atok hanya membalas senyum tipis.

“Siapa yang sakit, Mas?”

“Ibu saya.” Jawab Atok.

“Oh…”

Karena sudah terjebak di dalam percakapan, mau tak mau Atok balik bertanya. “Mas sendiri?”

“Sahabat saya tadi habis melahirkan. Berhubung suaminya gak ada, jadi saya yang temani.”

“Oh gitu.” Atok mengangguk berusaha memahami. “Ibu dan bayinya sehat semua kan?”

“Syukurlah sehat.” Senyumnya mengembang menunjukkan kelegaan. Tiba-tiba tangannya terulur ke hadapan Atok. “Panggil saya Reza aja.”

Ragu-ragu Atok menjabat tangan Reza. Daridulu ia selalu tak habis pikir dengan orang-orang yang begitu mudah berkenalan dan akrab dengan orang asing. “Atok.”

“Ibunya sakit apa, Mas?

“Kata dokter serangan jantung.”

“Wah, berat juga ya.”

“Mienya pake sayur gak, Bos?” teriak penjaga kantin dari dapur.

Atok tersentak oleh teriakan mendadak itu. “Boleh, Mas.”

“Pake cabe juga mau?” teriaknya lagi.

“I-iya, Mas. Boleh juga.” Atok berpikir larangan untuk teriak-teriak di area rumah sakit sepertinya tidak berlaku untuk kantin ini.

“Sesuai namanya…” Reza menunjuk banner usang di depan pintu. “Yang ajaib kayaknya penjaganya.”

Atok tertawa kecil. Ia meraih sebungkus kacang tanah dari toples. “Bayinya laki-laki atau perempuan, Mas?”

“Laki-laki. Katanya sih mirip ayahnya. Tapi saya gak pernah tahu ayahnya siapa, mukanya gimana. Yang penting buat saya, sahabat saya aman dan selamat.”

Dari raut wajah lawan bicara saat bercerita, Atok bisa melihat sedikit rasa marah dan dendam pada siapapun yang seharusnya bertanggung jawab atas bayi sahabatnya itu. Atok hanya mengangguk-angguk sambil terus mengunyah kacang.

“Ibu mas Atok di bangsal mana?”

“Ehm, kamboja.”

“Sahabat saya di tulip. Nanti kita searah baliknya, lewat bangsal bayi juga. Nanti bareng aja, sekalian saya tunjukkan bayinya yang mana.” Usul Reza antusias.

Sebenarnya Atok sungguh tidak peduli dengan semua tawaran Reza. Namun sepertinya usul Reza hanya membutuhkan jawaban ‘iya’. Bukan bentuk penawaran yang bisa ditolak.

“Oh… iya.” Atok memaksakan senyum.

Aroma khas mie goreng segera menyelamatkan Atok dari situasi itu. “Indomie goreng buat masnya. Nasi telor buat mas satunya.” Penjaga kantin menyodorkan pesanan Atok dan Reza. Disusul dengan cangkir-cangkir kopi panas mengepulkan asap. “Gak lupa kopi tubruknya.”

“Makasih, Mas.” kata Atok dan Reza hampir bersamaan.

“Mari, Mas Atok.” Reza langsung menyantap nasinya.

Sementara Atok menyesap kopinya lebih dulu. Ia memejamkan mata. Menuntaskan rindunya pada biji-biji kopi di rumahnya. Rasa kopi di mulutnya masih jauh dari yang ia harapkan. Namun untuk saat ini, sudah lebih dari cukup.

Tangan Atok mengambil sendok. Mengaduk mie goreng yang masih panas. Saat ibunya jatuh sakit dan tak sanggup memasak lagi, akhirnya Atok memutuskan mencoba mie instan ini yang sebelumnya selalu dilarang oleh ibu. Dan Atok sungguh menyesal mengapa tak mencoba makanan ini dari kecil.

Atok menyantap satu suapan besar dan langsung mengangguk-angguk. “Benar-benar penyelamat dunia.”

***

Atok merapatkan jaket mengimbangi langkah Reza menyusuri koridor rumah sakit.

“Mas Atok kerjanya dimana?”

Atok tak tahu harus menjelaskan dari mana. “Serabutan. Apa aja dikerjakan. Kadang benerin mesin kapal nelayan, kadang di bengkel, nyupir truk, jadi mekanik mercusuar juga. Yah, seringnya jadi tukang macam-macam. Kalau malam buka warung kopi di depan rumah.”

Reza melongo. “Wah, hebat betul.”

“Biasa aja kok, Mas. Apa spesialnya jadi tukang.”

“Mas Atok pasti bermanfaat buat banyak orang. Itu yang spesial.”

Langkah mereka melambat di depan ruangan berkaca bening besar. Dahi Reza menempel di kaca mencari-cari box bayi bertuliskan nama Jia. “Nah, itu dia. Itu bayinya, yang pakai selimut gambar paus.” Tunjuk Reza.

Kepala Atok nyaris menempel kaca untuk mendapatkan penglihatan lebih jelas sosok bayi yang dimaksud Reza. Ia melihat bayi laki-laki tertidur pulas seperti tak bergerak sedikitpun. Atok sama sekali tak kenal siapa orang tuanya. Namun melihat wajahnya yang masih polos berwarna merah muda, ia jadi tersenyum. Semoga hidupmu jauh lebih beruntung dariku, Manusia kecil, harapnya.

Reza dan Atok pun melanjutkan langkah mereka menuju kamar pasien masing-masing. Di persimpangan koridor, Reza berbelok ke kiri. “Mas Atok masih lurus kan?”

Atok mengangguk.

“Salam untuk ibunya ya, Mas. Semoga cepat sembuh dan boleh pulang.”

“Makasih, Mas. Salam juga untuk sahabatnya, selamat jadi ibu.” Balas Atok.

Reza mengacungkan jempol. Kemudian ia teringat sesuatu. “Eh Mas Atok…”

Atok menoleh lagi.

Reza menghampiri Atok sambil mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. “Saya baru ingat. Kantor saya butuh teknisi baru. Kalau denger cerita Mas Atok tadi, sepertinya Mas sudah terbiasa utak-atik mesin, kan? Siapa tahu Mas Atok butuh pekerjaan tetap. Hubungi saya kalau berminat.”

Atok menerima kartu nama Reza dengan bingung. “Ini… saya ditawari pekerjaan, Mas?”

“Iya dong.” Reza menepuk Pundak Atok. “Kalau Mas Atok berminat aja, kalau gak minat juga gak apa-apa. Nomor saya ada di situ, tinggal telepon.”

Atok menatap kartu nama di tangannya. REZA ARTHA. Keterangan di bawahnya bertuliskan jabatan supervisor, di pabrik produsen alat berat. Atok mendongakkan kepala, Reza sudah berjalan menjauh. “Mas, Makasih!” teriaknya.

Lagi-lagi Reza mengacungkan jempolnya sambil tetap jalan.

Atok berjalan kembali menuju kamar ibu. Kepalanya terus menggali ingatan setelah membaca nama lengkap Reza. Seolah ia pernah mengenali nama itu. “Ah, yang nyanyi lagu ijinkan aku untuk terakhir kalinya…” Atok menepuk jidat. “Ingatan sampah.”

***

“Jadi… kurang lebih tujuan kami seperti itu, Among Tua.” Kata seorang pria berusia hampir lima puluh tahun yang mengaku sebagai calon gubernur itu.

Sosok asisten yang duduk di sebelahnya ikut menambahkan, “Kami sungguh berharap Among Tua sekalian dapat membantu upaya kami tahun ini. Tentunya desa ini akan diprioritaskan jika kami terpilih nanti.”

Di hadapannya, Kalua memperhatikan pria itu dengan tatapan datar. Ia duduk di posisi paling tengah di antara para Among desa diapit oleh Among Retu dan Among Sani. Ia mencondongkan wajahnya tepat di telinga kiri Among Retu. “Aku tidak percaya Among Retu menyambut mereka di sini, tepat di saat aku akan pergi.”

Among Retu menangkupkan kedua telapak tangannya pada Kalua dan berbisik. “Mohon ampun, Amongku. Aku dan Among Sani tidak bisa menahan mereka semua. Kurasa hanya Among Kalua sebagai Among tertinggi yang mampu membuat mereka pergi.”

“Among pikir mereka akan percaya padaku? Lihat saja pakaianku sekarang.” Kalua melirik jaket biru tua, kaos hitam, celana jeans panjang, dan sepatu kulit yang sudah menggantikan baju adatnya sejak sejam lalu. Among Retu terpaksa menunda keberangkatan Kalua ketika mendadak ada tamu pejabat dari ibukota itu. Hingga ia tak sempat berganti baju lagi.

“Para Among Tua hanya menunggu keputusan Amongku. Setelah itu Amongku bisa berangkat pergi.” Tambah Among Sani.

Kalua hanya menelan ludah dan berdeham sejenak. “Begini, Bapak…”

“Lukman, Among.” Sahut asisten itu. “Dan ini Pak Jaya, sang calon gubernur.” Ia menjelaskan.

“Baik, Pak Lukman dan Pak Jaya… sang calon gubernur.” Kalua menekankan. “Kami sungguh berterima kasih pada kedatangan bapak-bapak semua…”

“Eh sebentar…” sela Jaya. “Kami hanya ingin petuah dari Among tertua. Dari Among Retu, betul, kan?” ia menoleh ke Lukman dan kolega lainnya yang ikut hadir.

“Betul, betul.” Sahut pengikut Jaya serentak.

Among Retu dan Among Sani takut-takut melirik Kalua.

Kalua tertawa lepas. “Aahh begitu rupanya…” Masih memaksakan tawanya selepas mungkin. “Sepertinya saya tidak dibutuhkan lagi di sini. Kalau begitu lebih baik saya pergi saja.” Ia menepuk Pundak Among Retu dan Among Sani. “Among berdua yang bicara ya.” Kalua beranjak dari singgasana.

“Tunggu, Amongku. Apa yang harus kami lakukan?” tanya Among Sani.

“Kita ini bukan dukun untuk pemilu, Among.” Bisik Kalua. “Usir mereka semua.” Ia balik berbisik ke Among Retu. “Kalau perlu beri bocoran, mereka bakal kalah telak.”

Among Retu menahan tawa dan mengangguk. “Kurasa itu tidak akan bijak, Amongku.”

“Tentu saja itu bijak. Untuk menghemat uang mereka, bukan?” Kalua berjalan meninggalkan pondok tetua adat.

Among Retu berdeham. “Sesuai petuah dari Among Tertua kami, sepertinya kami dan desa ini tidak akan memihak siapapun.”

Jaya kebingungan. “Tunggu sebentar, sebenarnya siapa Among tertua di desa ini?”

“Yang baru saja pergi. Among Kalua.” jawab Among Sani.

“Betul, Among Kalua memang terlihat masih sangat muda. Dialah Among Tetua termuda kami. Dipilih langsung oleh leluhur.”

***

Kalua hanya perlu menemui seseorang lagi sebelum meninggalkan desa. Ia memperhatikan teras rumah yang kini semakin asri berkat barisan bunga bermekaran. Ditambah sinar matahari siang membuat suasana begitu cerah. Tangannya mengetuk pintu beberapa kali. Keluarlah sosok wanita paruh baya yang langsung memberi salam hormat ketika melihat Kalua di ambang pintunya. “Amongku…”

“Amba, tidak perlu begitu. Aku ini masih menantumu.” Kalua memegang kedua tangan wanita itu, yang adalah ibu Jia. “Aku yang seharusnya hormat padamu.”

Ibu Jia menegakkan tubuhnya. “Menantuku adalah manusia terhormat di sini. Sudah sewajarnya.” Ia balik mengenggam tangan Kalua.

Ayah Jia muncul dari balik pintu. “Amongku…” ia memberi salam hormat, yang langsung dicegah oleh Kalua.

“Among, tidak perlu. Aku hanya ingin berpamitan.” Kalua menarik napas. “Kupikir Among Retu sudah memberi kabar sebelumnya.”

Ayah dan ibu Jia berpandangan sejenak kemudian mengangguk.

“Aku akan pergi mencari mereka berdua. Sampai ketemu.” Tegas Kalua.

“Amongku, apakah itu mungkin? Jia sudah tidak bisa dihubungi sejak berbulan-bulan lalu.” ratap ibu Jia. “Entah ada dimana Jia sekarang. Siapa yang membantunya melahirkan cucuku.”

Kalua tak kuasa menyaksikan kesedihan ibu mertuanya. “Aku mendapat petunjuk keberadaannya, Amba. Setelah ini aku akan menuju ke sana.”

“Apa perlu kami ikut, Amongku?” tanya ayah Jia.

Kalua menggeleng. “Tidak perlu. Aku takut kalau perjalanan ini membawa bahaya. Lebih baik aku menempuhnya sendiri saja.” Ia meraih tangan ayah dan ibu Jia. “Aku membutuhkan restu dari Among dan Amba. Semoga setelah ini kita semua bisa berkumpul lagi di sini.”

Ayah dan ibu Jia menggenggam tangan Kalua erat. “Aku akan memohon pada leluhur untuk melindungi kita semua, Amongku.” Ucap ibu Jia sambil terisak.

Hanya ini yang dibutuhkan Kalua. Kekuatan untuk memantapkan hati dan langkahnya yang akan menempuh perjalanan entah sejauh apa, entah berapa lama.

***

Jia masuk ke rumah kontrakannya lebih dulu. Disusul Reza yang menenteng dua tas baju di pundak. “Masih belum kau putuskan juga siapa namanya?”

Jia menggeleng.

“Kenapa sama sekali belum kau pikirkan sih? Terus kita mau panggil dia apa?”

Jia menatap wajah bayi di pelukannya. “Aku butuh waktu untuk menentukan nama terbaiknya, Za.”

Reza menjatuhkan dua tas baju yang cukup membuat tangannya pegal. “Kalau begitu untuk sementara kita panggil dia Boy?”

“Terserah kau lah.” Jia meletakkan Boy perlahan di atas sofa.

Reza duduk di atas karpet, memperhatikan Boy lekat-lekat. “Jia, kau yakin kalian berdua akan baik-baik saja di sini?”

“Maksudmu?”

“Sepanjang yang aku tahu darimu, ayah bayi ini masih hidup, betul?”

Jia mengangguk.

Kedua orang tuamu, ayah dan ibu mertuamu masih hidup juga?”

Jia mengangguk lagi.

“Mereka semua tahu kau hamil?”

Jia menghela napas. “Suamiku pasti tahu, dan pasti memberi tahu keluargaku juga.”

“Kupikir cepat atau lambat akan ada yang mencari kalian berdua, Jia.”

“Mereka tidak tahu aku ada dimana.”

Reza terdiam. Selama ini ia selalu gagal menggali informasi keluarga Jia yang tertutup rapat tanpa petunjuk apapun. “Jia, aku mohon, kali ini aku berhak tahu. Sebenarnya kau kenapa dengan keluargamu? Dengan suamimu dulu?”

Jia membuang muka.

“Setidaknya, kalau memang kau tidak ingin ditemukan oleh keluargamu, beri aku alasan kuat untuk tetap menyembunyikanmu di sini, Jia. Karena aku punya firasat ada orang-orang yang mencarimu setelah ini.”

Jia melirik Boy yang masih tertidur pulas. “Bayiku ini… dia memiliki garis keturunan yang tidak biasa, Za.”

Mengalirlah semua cerita lama, alasannya melarikan diri dari desa, keinginannya untuk menjadi bebas, cinta pertamanya, dan sosok suami yang ia tinggalkan. Reza mencoba untuk memahaminya satu persatu. Bagi Reza, cerita itu terlalu pelik.

“Jadi maksudmu, si Boy ini… adalah anak Tetua adat?”

Jia mengangguk.

“Ia bisa membuka gerbang… pagar… atau apapun lah yang magic-magic itu untuk terhubung ke nenek moyang kalian?” Reza terbata-bata memastikan pemahamannya sudah benar.

“Karena dia lahir di luar desa kalian, dia bisa mendatangkan bahaya besar?”

Jia mengangguk lagi.

“Dia bisa dimanfaatkan orang lain yang ingin membuka gerbang ajaib itu? Untuk menguasai kekuatannya?”

“Ya, setidaknya kesimpulanmu sudah benar. Dan bagian terpentingnya, dia akan jadi penerus tahta. Tetua adat termuda. Kau benar, kemungkinan orang-orang satu desa sedang mencarinya sekarang.”

Reza merebahkan tubuhnya. “Sialan, ternyata si Boy anak ajaib.”

Jia membelai tangan Boy yang mungil. “Ini semua jelas salahku, Za. Aku membuat perjanjian yang salah. Sekarang kau tahu alasanku ingin bersembunyi. Aku ingin memastikan ia aman bersamaku.”

Reza menatap Jia. “Kau sama sekali tidak berencana untuk pulang ke desamu? Menebus semua kesalahanmu? Aku rasa orang-orang di desamu sebenarnya juga ingin mengamankan Boy.”

“Aku akan dicaci sebagai perempuan pembawa kutukan.” Potong Jia. “Mereka jelas akan memisahkanku dengan bayiku.”

Reza bangkit, duduk di depan Jia. “Jia…” ia memegang kedua bahu Jia. “Kalau memang kau masih ingin tinggal di sini, selama ini yang paling aman buatmu, kau di sini saja. Aku akan memastikan kalian aman, aku janji.”

Jia menatap Reza. Ia menggenggam tangan Reza. “Reza, terima kasih banyak. Terima kasih sudah percaya dan melindungiku.”

Reza tersenyum. Ia melirik jam tangannya. “Aku harus kembali ke kantor. Kau tidak apa-apa sendirian dulu?”

Jia tertawa geli. “Biasanya juga sendirian.”

“Ya kali ini kan situasinya berbeda. Ada si Boy.” Reza mengambil kunci mobil, tiba-tiba terusik sesuatu. “Kalau boleh tahu, siapa nama suamimu?”

“Kalua. Kalua Awali.”

***

Kontak Pertama

“Ibuk istirahat dulu di sini ya? Moli sama Atok beresin rumah dulu.” Pinta Moli sambil merebahkan ibu di atas ranjangnya.

Ibu meraih tangan Moli. “Mol, tempatmu di sini. Jangan takut apalagi malu. Rumahmu selalu di sini. Jangan pergi lagi.” ucap ibu dengan suara serak.

Moli tertegun. “Buk…”

Ibu menepuk tangan Moli. “Kamu tetap anak ibuk.”

Moli tersenyum dan mengangguk. “Ibuk istirahat ya.” Moli keluar dari kamar ibu.

Kini Moli berkesempatan memperhatikan isi rumah yang sudah ia tinggalkan bertahun-tahun. Banyak perabotan dan barang-barang yang hilang.

Atok keluar dari dapur membawa dua sapu. Satu ia serahkan pada Moli.

“Barang-barang Bang Moli udah gak ada semua, Tok?”

Atok hanya menatap Moli sinis. “Menurut Bang Moli? Untuk apa aku menyimpan barang tak terpakai selama bertahun-tahun.”

Moli terdiam. Kemudian ia menyapu ruang tamu. Sementara Atok membersihkan halaman. Sempat ada kabar puting beliung ketika Atok sedang di rumah sakit. Rumah ini pun seperti tertimpa sampah dari langit. Semua serba berdebu.

Moli menatap puncak mercusuar dari teras rumah. Ia menelan ludah. Rasanya ia tak lagi punya keberanian untuk kembali ke sana.

Atok mengikuti pandangan Moli. “Udah gak berfungsi, Bang. Udah mati total. Gak aneh-aneh lagi kayak dulu.” Cerita Atok diiringi suara gesekan sapu.

Mungkin saja belum. Batin Moli. Ia selalu percaya mercusuar itu menyimpan banyak misteri di dalamnya. Hanya membutuhkan waktu dan orang yang tepat untuk terungkap.

***

“Kau yakin tahu tempatnya, Da? Pernah ke sana?” tanya Kalua.

“Yakin, Amongku. Mendengar ciri-ciri lokasinya, aku yakin tempatnya di sana. Amongku percaya saja sama Eda.” Kata Eda mantap sembari memutar setir truknya yang besar.

Eda bersikeras mengantarkan Kalua dengan truk tambangnya. Ia bersikukuh tahu betul lokasi yang dicari Among Tuanya itu. Desa seberang dengan satu mercusuar aneh.

“Lalu apa kau kenal dengan yang namanya Atok?”

Eda mengernyit. “Kalau itu Eda tidak bisa memastikan, Amongku. Tapi desa itu kecil, tidak banyak penduduk seperti desa kita. Harusnya akan lebih mudah mencari orang di sana.”

Kalua memandang jalanan. “Semoga saja kau benar.”

Kira-kira satu setengah jam kemudian, truk Eda mulai menanjak membelah perbukitan. Jalannya semakin menyempit hingga akhirnya Eda menepikan truknya di sebelah pemukiman penduduk.

“Kita hanya bisa sampai sini, Amongku. Truk tidak bisa naik ke atas.” Eda mematikan mesin truknya. Keduanya pun turun.

Kalua menggotong ranselnya. Ia lesu melihat perbukitan yang penuh dengan rumah-rumah penduduk. “Dari mana aku harus mencarinya?”

“Mungkin Amongku bisa menanyakannya ke kantor kepala desa atau orang sekitar.”

“Ah, kau benar.” Kalua mulai melangkah masuk ke pemukiman. “Kau tak ikut denganku, Eda?”

Eda memberi salam hormat. “Tidak, Amongku. Tak elok jika Eda ikut campur urusan Amongku. Mohon maaf kali ini Amongku harus sendirian.”

Kalua tersenyum. “Terima kasih banyak, Eda. Sungguh hatimu baik sekali. Sampaikan terima kasihku juga untuk Among dan Ambamu di rumah. Kau bisa kembali pulang sekarang.”

“Eda pamit pulang, Amongku.” Ia memberi hormat dan kembali masuk ke dalam truknya, perlahan putar balik ke jalan semula.

Kalua menggenggam tali ranselnya erat. “Atok dan mercusuar. Hanya itu petunjukku dari Bharma.”

Kalua menyusuri jalan menanjak yang asri dan sejuk. Desa ini sungguh cantik. Berbanding terbalik dengan desanya yang gersang dan panas, di sini begitu dingin. Tidak ada debu tambang dan asap truk. Hanya ada semilir angin berbau asin laut yang khas. Setelah berbelok dari jalan utama, Kalua akhirnya melihat mercusuar itu.

“Itu dia, aku menemukan mercusuarnya. Persis seperti yang kulihat di dalam Bharma.” Kalua melongo. “Eda benar, di sini tempatnya.”

Kalua mempercepat langkahnya.

***

Sinar matahari sore sudah mulai menguning. Atok merapikan meja-meja dan kursi untuk warung kopinya.

“Langsung buka hari ini, Tok?”

“Iya, Bang. Aku sudah rindu menyeduh kopi.” Jawab Atok asal. Sebenarnya ia lebih ingin mengalihkan perhatian dari suntuknya suasana rumah. Ia pun memutuskan hari ini langsung membuka warung kopinya.

“Tok, menurutmu bagaimana kata orang kalau lihat Bang Moli tiba-tiba muncul lagi di sini?”

“Gak bakal ada yang peduli, Bang.” Atok menanggapi santai.

“Bang Moli serius, Tok.”

“Ya Atok lebih serius, Bang.” Atok meletakkan meja. “Setelah Bang Moli pulang dari mercusuar itu. Aku selalu bilang sama orang-orang kalo ternyata Bang Moli lagi coba kerja di kapal pesiar, ketipu, gak bisa pulang, terus terdampar di pulau kecil. Makanya bertahun-tahun gak pulang.”

“Dan mereka percaya?”

Atok mengangguk yakin. “Ceritaku yang paling meyakinkan, Bang.” Ia merapikan toples-toples kopi yang bertumpuk-tumpuk. Tangannya membuka setoples kopi Gondo. Hidungnya menghirup dalam-dalam. Matanya terpejam. “Cuma kopi gondo yang bisa menenangkan pikiranku.” Bisiknya untuk diri sendiri.

Moli duduk di salah satu kursi warung. Ia memperhatikan langit-langit yang semakin cantik berwarna jingga dan sedikit semburat merah muda. “Langit sore di sini memang tak tertandingi.”

Atok ikut duduk. “Atok gak pernah lihat langit di tempat lain. Jadi menurut Atok tetap indah seperti biasanya.” Ia pun teringat sesuatu. “Kemarin waktu di rumah sakit, ada yang nawarin Atok pekerjaan, Bang.”

“Oh ya? bagus itu. Kau ambil saja, Tok.” Suruh Moli.

Atok meringis. “Sepertinya kali ini aku paham dengan situasi Bang Moli sebelas tahun lalu. Banyak kesempatan, tapi tidak bisa ambil. Mana mungkin aku meninggalkan Ibuk untuk bekerja di kota, Bang.”

Moli hanya mencoba tersenyum. “Ya begitulah. Punya mimpi itu mahal, Tok. Gak semua orang bisa bercita-cita. Tapi setidaknya kamu jangan mengulangi kesalahan Abang di masa lalu. Bang Moli bisa jagain Ibuk.”

Atok menggeleng. “Aku masih tidak bisa memutuskan apapun, Bang. Aku masih ingin di sini.”

Tiba-tiba ada seorang laki-laki mendekat. Atok dan Moli memperhatikannya dengan seksama. “Temanmu, Tok?” tanya Bang Moli.

Atok melihat laki-laki itu hingga keningnya berkerut. Memakai jaket biru tua, celana jeans panjang, sepatu kulit, tinggi semampai walau mungkin tak lebih tinggi dari Atok. Usianya jelas terlihat lebih muda dari Atok. “Bukan, Bang.”

Namun Atok meyakini laki-laki itu sedang menatap lurus ke arahnya. Akhirnya Atok berdiri. “Mau beli kopi, Mas? Tapi warungnya belum buka, masih sejam lagi.”

***

Berkat arahan dari penduduk sekitar yang ia temui di jalan, Kalua berhasil menemukan tempat tujuannya. Dan tak cuma itu, kini ia melihat sosok yang dicari selama ini. Petunjuk dari Bharma, kini ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Penampilan Atok mengingatkannya pada Angken. Tinggi kekar, berkulit gelap, rambut berombak hingga kuping, dan rahang tegas.

Ragu-ragu ia mendekat menghampiri laki-laki yang katanya bernama Atok itu.

“Mau beli kopi, Mas? Tapi warungnya belum buka, masih sejam lagi.” sambut Atok ramah.

“Ma-maaf, saya mencari yang namanya Atok.” Ucapnya terbata. Mendadak kepalanya terasa pening.

Kening Atok berkerut. “Iya, saya sendiri. Saya yang namanya Atok. Maaf, mas siapa ya? sepertinya ini pertama kalinya saya lihat mas.”

Kalua mengulurkan tangannya. “Kenalkan, nama saya Kalua.”

Atok melihat tangan Kalua. Tampak ragu, tapi ia pun membalas jabat tangan itu. Atok mengenggam tangan Kalua erat.

Kalua langsung ambruk tak sadarkan diri.

***

“Astaga! Bang, Bang Moli!” teriak Atok minta tolong. Ia refleks menangkap tubuh Kalua yang tiba-tiba pingsan.

“Tok? Kenapa dia, Tok?” Moli menghampiri ikut mengangkat Kalua.

“Mana kutahu, Bang. Dia tiba-tiba pingsan begini.”

“Bawa masuk ke rumah, bawa masuk.”

Moli dan Atok menggotong tubuh Kalua ke dalam rumah. Mereka meletakkan tubuh Kalua di kursi ruang tengah.

“Kau kenal dia?” tanya Moli dengan napas naik turun.

Atok menggeleng cepat. “Baru kali ini aku lihat dia.” Atok memperhatikan wajah Kalua. “Tapi tadi dia bilang cari Atok.” Gumamnya.

“Tok… Tok…” tangan Moli menepuk lengan Atok.

Atok menoleh. Wajah Moli melihat ke arah luar dengan ekspresi ketakutan. Atok mengikuti pandangan Moli. Jantungnya langsung berdegup kencang, tak percaya dengan apa yang ia saksikan.

“Tok, kau bilang mercusuar itu sudah mati total, kan?” suara Moli bergetar.

Atok melihat lampu mercusuar yang menyala terang… dan berputar dengan normal. Ia meraih teropong dari kamar dan langsung mengecek puncak mercusuar lewat teropongnya. “Demi apapun, Bang. Lampu dan listriknya udah mati sejak bertahun-tahun lalu.” Atok menurunkan teropongnya. “Jangan jangan…”

Atok dan Moli menatap Kalua yang masih belum sadarkan diri.

***

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram