Pintu Darurat
Kalua tiba-tiba berada di tempat gelap dan pengap. Dengan tubuh yang sudah tertutup jubah abu-abu panjang, ia tahu betul hanya pikiran dan sukmanya yang ada di sini. “Semoga ragaku tidak dibuang oleh Atok.” gumamnya.
Kalua memperhatikan sekitar. Tempat itu lebih sempit dibandingkan dengan Bharma. Ada sumber cahaya dari atas, ia mendongak. Kemudian ia baru menyadari keberadaan tangga melingkar yang menjulang ke atas.. “Ah… aku di dalam mercusuar.”
Kalua menaiki tangga satu persatu. Rasa pening di kepalanya mulai mereda. Seorang laki-laki telah menunggunya di puncak mercusuar.
Firasat Kalua benar. “Atok…”
Atok tersenyum. “Tak kusangka kita benar-benar bertemu di sini, Amongku. Belum pernah ada peristiwa dua Among Penjaga saling bertemu sebelumnya. Di semesta mana pun.” Ucapnya merasa bangga.
Kalua melihat Atok yang jauh berbeda. Atok dalam dimensi ini terlihat tenang, rapi, murah senyum, teduh, dengan jubah abu-abu panjang yang membuat sosoknya terlihat lebih tinggi.
“Kau… maksudku, Atok di dunia manusia… tahu keberadaanmu?”
Atok menggeleng. “Tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu.”
“Jadi selama ini kau tidak pernah terhubung dengan raga Atok?”
Atok kembali menatap pemandangan desa di bawah sana. “Koneksi itu tidak ada gunanya di sini, Amongku. Manusia-manusia ini tidak menyembah kita. Berbeda dengan pendudukmu.”
Kalua berdiri di sebelah Atok. “Benar kau yang datang di mimpiku? Yang memberiku petunjuk soal Jia?”
“Tentu saja. Petunjuk itu akan terlalu berbahaya apabila keluar langsung dari Bharma, Amongku. Maka aku hanya datang lewat mimpimu. Aku merasakan ada kebocoran besar yang terjadi di Bharma. Sebagai Among Penjaga yang bersinggungan dengan Bharma, aku memiliki kewajiban untuk membantu Amongku.”
Kalua mendengus. “Lalu mengapa tak kau sampaikan saja semuanya melalui mimpiku?”
Atok tertawa. “Tidak akan mudah bagi Among Penjaga yang baru terkoneksi untuk menerima informasi sebanyak itu. Maafkan aku, Amongku sampai harus menempuh perjalanan sejauh ini. Amongku juga perlu waktu untuk menguatkan koneksi dengan Bharma, kan?”
Kalua menunduk. “Kau benar… ah, maaf, maksudku… Among benar. Aku lupa harus memanggil Among.”
“Tak perlu. Aku lebih suka dipanggil Atok saja.” Tangan kanan Atok memegang dinding kaca mercusuar. Sentuhan itu langsung meruntuhkan dimensi bangunan mercusuar dan menggantinya dengan interior rumah sederhana. Seolah Kalua dan Atok benar-benar sedang ada di dalam rumah itu.
“Kita ada di dalam rumah siapa?”
“Amongku akan tahu sebentar lagi.” Jawab Atok tenang. “Kita hanya perlu sama-sama fokus.”
Tak lama kemudian terlihat laki-laki yang masuk ke rumah. Dari penampilannya seperti baru pulang kerja. Ia melempar ransel dan jaket ke atas sofa di ruang tengah, tidak menyadari bahwa gerak-geriknya detik itu sedang diawasi dari dimensi lain oleh Kalua dan Atok.
“Aku tidak mengenalnya.” Kata Kalua.
“Belum, Amongku.” Koreksi Atok.
Laki-laki itu lalu mengetuk sebuah pintu kamar. Kalua mulai memperhatikan lebih serius. Pintu kamar terbuka, Jia keluar kamar sambil menggendong bayinya.
Jantung Kalua seolah terhenti, napasnya tak beraturan, matanya berkedip cepat karena rasa pening mendadak menyerang.
Atok merasakan proyeksi visual Jia yang mulai tidak stabil. “Amongku…” panggil Atok.
Kalua meremas kepalanya yang semakin pening.
“Amongku harus bertahan sedikit lagi. Ini petunjuk yang Among inginkan, bukan?”
Kalua memaksa badannya kembali tegak. Perempuan yang selama ini ia cari, istrinya, kini muncul di hadapannya tanpa bisa ia sentuh.
“Bertahanlah, Amongku.” Tambah Atok.
Kalua berusaha mengatur napas. Ia menatap Jia, perasaannya bercampur kali ini. Jia, batinnya menahan rindu. “Siapa laki-laki itu?” tanya Kalua pelan.
“Sepertinya ia sekadar teman baik yang sedang menolong.” Atok menatap Kalua. “Mari kita berharap tidak lebih dari itu.”
Kini fokus Kalua berpindah pada laki-laki yang sedang bersama Jia. Ia mengenali bahasa tubuh dan ekspresi wajah itu dengan baik. Tidak mungkin, pikirnya.
“Amongku, jangan lupakan Bapuhmu. Dia prioritas kita sesungguhnya.” Atok mengingatkan. “Amongku harus segera menyatukan batin dan sukma dengannya.”
Kalua terkejut. “Kita bisa melakukannya?”
“Lebih tepatnya hanya Amongku yang bisa melakukannya.” Atok membentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata. “Tugasku hanya menjaga dimensi ini tidak runtuh selama Amongku melakukan koneksi dengan sang Bapuh. Sekarang waktunya, Amongku. Supaya Amongku tidak kehilangan jejaknya lagi. Aku akan tetap bersama Amongku.” Perintah Atok.
Kalua menatap Bapuhnya lekat-lekat. Ia memejamkan mata, tangan kanannya menjulur seperti hendak menyentuh bayi Jia. Telapak tangannya bersinar, seisi dimensi Kalua dan Atok menjadi lebih terang. Kini Kalua melihat kilasan peristiwa yang begitu cepat. Jia yang pergi sendirian meninggalkan desa, Jia yang menemui Reza pertama kali, hingga bayi Jia yang lahir belum memiliki nama. Kepala Kalua terasa mau meledak. Ia menggeram kesakitan.
“Sedikit lagi, Amongku.” Sahut Atok.
Kalua berteriak kencang, kemudian koneksi itu terhenti. Ia dan Atok kembali pada dimensi mercusuar. Kalua lemas, ia terduduk sambil memegangi kepalanya.
“Sebuah kehormatan bagiku dapat menyaksikannya langsung, Amongku.” Atok membantu Kalua berdiri tegak. “Koneksi itu hanya bisa dilakukan secara diam-diam di dalam dimensi Bharma, apabila kita dalam keadaan bahaya.”
Kalua menggelengkan kepalanya. Kilasan gambar bayi Jia masih sesekali muncul dalam pandangannya. “Aku tidak mengerti.”
“Setelah koneksi terjadi, kini sang Bapuh bisa merasakan keberadaan Amongku. Nalurinya secara alamiah akan mencarimu, Amongku. Koneksi kalian akan menguat. Kalian akan saling mencari dan menemukan.”
Kalua menatap Atok. “Lalu… tugasmu sekarang sudah selesai?”
Atok tersenyum. “Aku akan selalu bersama Amongku. Sampai Amongku dan sang Bapuh kembali ke Bharma dengan selamat.”
“Jadi…” Kalua mengedarkan pandangan memperhatikan dimensi mercusuar. “Mercusuar ini semacam…”
“Pintu darurat. Amongku boleh menyebutnya begitu.”
“Tidak ada satu pun keluarga Atok yang tahu? Tidak ada satu pun yang terkoneksi?”
Atok menarik napas dalam-dalam. Terlihat bersiap menceritakan kisah yang panjang. “Hanya kakek Atok yang pernah terkoneksi. Ia mencoba melanjutkan koneksi itu dengan keturunannya, namun gagal. Justru mereka ingin memutus koneksi dengan mercusuar ini. Seperti yang kukatakan sebelumnya, Amongku, manusia-manusia di sini tidak akan percaya keberadaan dimensi ini, keberadaan kita berdua. Soal Atok, koneksi denganku pernah hampir terjadi. Tapi justru mendatangkan malapetaka bagi keluarganya. Maka kurasa lebih baik aku sendirian saja di sini.”
Kalua mengangguk pelan. “Bagaimana caraku masuk ke sini lagi? Bagaimana kalau aku membutuhkanmu lagi? Aku tidak bisa melakukan ini sendirian.”
Atok menjulurkan telapak tangan kanannya. “Masih ada Atok yang lain, bukan? Bicaralah dengannya.”
Ragu-ragu Kalua menyentuh telapak tangan Atok. Detik berikutnya semuanya kembali gelap.
***
Dunia Dukun
Kalua tersentak bangun.
“Aaah!” Atok dan Moli berteriak kaget luar biasa. Mereka kompak memegang dada dengan napas naik turun.
Kalua melihat seisi ruang tengah dengan cepat. Kemudian menatap Atok dan Moli bergantian. “Berapa lama aku pingsan?”
“Kau… sudah sering pingsan tiba-tiba begini ya?” tanya Moli heran.
Atok menunjukkan kesepuluh jarinya ke wajah Kalua. “Kira-kira sepuluh menit.”
Kalua mencoba mengingat-ingat yang ia dapatkan dari dimensi mercusuar. Mercusuar itu, Kalua langsung menatap puncak mercusuar yang menyala terang.
Atok dan Moli saling berpandangan. “Sudah kuduga…” Kedua tangan Atok mencengkeram baju Kalua dan menariknya kencang. “Kau yang membuat mercusuar sialan itu menyala lagi, kan? Siapa kau sebenarnya? Susah payah aku terlepas dari kutukan mercusuar itu. Apa maumu?”
Moli melerai mereka berdua. “Tok, Atok, tenang dulu, Tok.”
“Kita bisa dalam bahaya kalau sampai mercusuar itu berulah lagi, Bang Moli.” Tegas Atok. Ia menarik kerah Kalua lebih kencang. “Mau apa kau sebenarnya?” teriak Atok tepat di depan wajah Kalua.
“KOPI!” Kalua balas berteriak. Mereka semua langsung terdiam. “Kopi…” ucap Kalua lagi. Ia menunjuk kedai Atok di halaman rumah. “Wa-warung kopimu sudah buka, kan?” tanya Kalua hati-hati. “Aku mau kopi terbaikmu… setelah itu aku akan menceritakan semuanya.”
Cengkeraman Atok belum melonggar. Ia menatap kedua mata Kalua sungguh-sungguh.
“Tok, sudahlah, lepaskan dulu.” Moli menambahkan.
“Aku janji. Soal mercusuar dan kejadian yang kalian berdua alami… akan kuceritakan semuanya.” Bisik Kalua putus asa.
Atok melepaskan kedua tangannya. Kalua akhirnya bisa bernapas lega. Atok beranjak menuju warung kopinya. Ia berbalik menatap Kalua lagi. “Hanya kopi sachet, kau belum berhak mencicipi kopi terbaikku.” Ujarnya lalu pergi.
“Cukup adil.” Kalua mencoba tersenyum. “Pantas saja Among Penjaga mercusuar tidak mau terkoneksi dengan manusia ini.” bisik Kalua. Ia meraih ranselnya lalu menyusul Atok, diikuti Moli.
***
“Tetap saja, berarti kau dukun.” Kata Moli mantap. “Dimensi Bharma itu… dunia dukunmu, kan? Hanya bisa diakses sesama dukun.”
Kalua memutar bola matanya. “Baiklah…” Ia menyerah. “Kalau memang sebutan dukun bisa membantu pemahaman kalian, aku bersedia disebut dukun.”
“Sebentar…” sela Atok. “Sialan, aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Ia kesal sendiri.
“Tidak apa-apa, Atok. Semua ini memang sangat tidak masuk akal, apalagi untuk kalian berdua.”
“Pertama, berapa usiamu?” tanya Moli tiba-tiba.
Kalua bengong sejenak. “Usia manusiaku… 24 tahun.” Jawabnya seperti ragu-ragu mengingat umurnya sendiri.”
“Bahkan kau empat tahun lebih muda dariku dan sudah menjadi dukun yang memimpin desa? Sudah menikah pula?” seru Atok tak terima.
“Usia manusia? Maksudmu kau bahkan jauh lebih tua dari itu?” lanjut Moli penasaran.
Kalua memilih menjawab pertanyaan Moli yang lebih relevan. “Usiaku di dunia dukun sudah sangat tua. Kau tak perlu tahu usia tepatnya. Akan susah dipercaya.” Ia menatap Atok. “Jadi… seharusnya aku panggil kau ‘Mas’?”
Atok mengernyit tak suka. “Tak perlu. Aku lebih suka dipanggil Atok saja.”
Persis, pikir Kalua sambil menahan tawa.
“Menurutmu, yang terjadi padaku dan Bang Moli waktu itu. Ada kaitannya dengan dunia dukunmu?” Atok menanyakan kejadian di masa lalu yang masih membuatnya trauma.
“Jika dilihat dari rentang waktu dimensi manusia, sepuluh tahun sepertinya adalah waktu yang terlalu jauh untuk mengambil rencana darurat. Tapi tidak untuk dimensi Bharma…” Kalua memperhatikan wajah Atok dan Moli yang bingung. “Eh, maksudnya dunia dukunku. Ia bisa memperkirakan sesuatu buruk akan terjadi sepuluh bahkan puluhan tahun ke depan. Dan ia akan bersiap sebelum itu terjadi. Saat itu, kurasa dukun penjaga mercusuar sedang mempersiapkan rencana untuk masalah yang kualami sekarang.”
Atok dan Moli masih mendengarkan penjelasan Kalua sebaik-baiknya.
“Yang terjadi pada kalian berdua, aku pikir itu konsekuensi rencana darurat si dukun penjaga mercusuar. Mungkin ia berusaha terkoneksi dengan salah satu di antara kalian, namun gagal. Dimensi mercusuar menjadi rentan diakses dan tidak stabil. Maka ketika kalian masuk ke dalamnya, waktu akan teracak.” Kalua menatap Moli. “Aku tidak akan heran jika waktu itu kau menganggapnya sebagai mesin waktu.”
Moli membuang muka.
“Yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi pikiran kita ketika berada di dalamnya.“ Lanjut Kalua. “Butuh berbulan-bulan bagiku hingga bisa mengimbangi dunia dukun dan dunia nyata. Tempat seperti itu akan mengacaukan pikiran bagi yang tidak bersiap, bahkan aku yang telah ditakdirkan oleh leluhur pun tetap perlu waktu dan latihan untuk bisa menguasainya.” Kalua menatap Atok dan Moli dengan prihatin. “Efeknya pasti jauh lebih besar bagi kalian yang tidak tahu apa-apa tentang semua ini.”
“Dukun itu… seperti apa wujudnya?” tanya Atok sambil melirik puncak mercusuar.
“Pada dasarnya setiap dukun penjaga akan meniru persis wujud manusia yang telah ditakdirkan oleh leluhur. Sebelum aku terkoneksi dengan dunia dukun, wujud dukun penjaga yang aku temui persis sama denganku. Ketika koneksi sudah terjadi, kami menjadi satu entitas. Aku adalah Kalua sebagai manusia utuh dan Kalua di dunia dukun.” Kalua melirik puncak mercusuar. “Sementara si dukun penjaga mercusuar…” ia kembali menatap Atok. “Memilih wujudmu.”
Alis Atok terangkat. “Aku?”
“Tentu saja. Kau yang dipilihnya. Tapi sepertinya kalian tidak akan pernah terkoneksi. Terlalu beresiko.”
Pertanyaan muncul lagi di kepala Moli. “Tapi tadi kau berhasil bertemu dengannya setelah bersalaman dengan Atok, kan? Bukankah itu artinya Atok punya koneksi?”
Kalua menggeleng. “Tidak semudah itu. Sepertinya kejadian tadi sudah direncanakan dukun penjaga mercusuar untuk kontak pertamaku masuk ke sana.”
Atok memastikan lagi, “Jadi kau melihat dukun penjaga mercusuar itu persis sepertiku?”
Kalua mengangguk.
“Tidak ada bedanya sedikit pun?”
Kalua meringis. “Sikapnya sedikit berbeda…”
Atok menatap sinis.
“Ia sedikit lebih ramah. Hanya sedikit.” terang Kalua.
Atok mengibaskan tangannya. “Ia salah memilihku, Kalua. Aku sama sekali tidak punya petunjuk apapun soal keberadaan anak dan istrimu.”
“Tidak mungkin. Petunjuk para Among Penjaga tidak mungkin salah.” Ucapnya untuk meyakinkan diri sendiri.
“Memangnya siapa yang akan memburu anakmu? Temanmu si pengkhianat itu? Kau bilang dia sudah mati.” tanya Moli.
Kalua tidak langsung menjawab. Pertanyaan Moli menyadarkannya pada satu celah yang sepertinya terlewat. “Aku tidak pernah tahu sejauh apa rencana Angken. Yang kutahu, ia berhasil membongkar rahasia kekuatan dunia dukun. Siapa saja yang ada di pihaknya dan berapa banyak… aku belum mendapatkan petunjuk.”
“Siapa nama istrimu?” Atok mulai berinisiatif untuk membantu.
“Jia. Kalian pernah bertemu perempuan bernama Jia?”
Atok dan Moli menggeleng.
Kalua menghela napas. Sabar, Kalua. kau terlalu terburu-buru. Ucapnya dalam hati.
“MOLI?” terdengar teriakan dari jalan setapak. Atok, Kalua, dan terutama Moli menoleh bersamaan ke sumber suara.
“YONGKI?” Moli terkejut melihat sahabatnya.
“Moli betul ini?” tanya si Yongki lagi. Ia berjalan menghampiri dan langsung memeluk Moli.
“Yongki, tak kusangka kau masih ada di sini.” Seru Moli ikut sumringah.
“Astaga Moliii! Sudah kuduga, kalau mercusuar itu menyala lagi, pertanda kau kembali ke desa ini, Mol.” Yongki memperhatikan Moli sejenak kemudian memeluk erat lagi. “Ah keparat kau, Mol. Bagaimana kau bisa hilang di laut sih? Kau terdampar di mana? Ditipu kau sama perusahaan kapal pesiar?”
Moli mengerutkan kening. Kemudian ia melirik Atok yang semangat menyesap kopinya, pura-pura tak mendengar percakapan itu.
“Eh Tok, kau berhasil menemukan abangmu di pulau mana, hah?” Yongki menepuk pundak Atok.
“Wah, panjang ceritanya, Bang Yongki. Tapi seru banget. Jadi ternyata Bang Moli selama ini punya…”
“Ah, itu… kita pindah meja dulu saja lah, jangan di sini.” Sela Moli, ia menyeret Yongki untuk duduk menjauh dari Atok dan Kalua.
Atok hanya tertawa geli. Kemudian ia memperhatikan Kalua melamun menatap kopinya yang sisa setengah cangkir. “Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Kalua mengusap wajahnya. “Aku belum punya langkah selanjutnya.” Ia menoleh ke arah puncak mercusuar. “Kecuali…”
Atok menebak ide Kalua. “Kau mau kesana?”
“Bisakah kau temani?”
“Tidak!” Atok langsung menolak. “Tidak bisa, tidak mau, dan tidak berani.”
“Atok…” Kalua memohon. “Aku tidak punya banyak waktu berdiam di sini. Satu-satunya petunjukku hanya kau, atau si dukun penjaga mercusuar itu.”
“Sudah kubilang aku tidak punya…”
“Karena itulah aku butuh kembali ke dalam mercusuar.”
“Lalu kenapa kau tidak…” Atok pura-pura pingsan. “Pingsan lagi saja seperti tadi?”
“Kau pikir aku melakukannya dengan sengaja? Untuk melakukan koneksi dengan sadar tidak segampang itu, Tok. Dimensi mercusuar itu adalah pintu darurat dunia dukunku. Aku tidak punya otoritas penuh di dalam sana.”
“Aku baru tahu kalau dunia dukun juga pakai birokrasi.” Ledek Atok.
“Baiklah, aku harus mengaku satu hal padamu, Tok. Aku tidak benar-benar tahu apa yang kulakukan. Bahkan, mungkin aku hanya tahu tiga puluh persen saja dari rencana dunia dukunku.” Kalua menghela napas.
Atok terdiam dan mulai mendengarkan.
“Salah jika kau menganggap aku sudah tahu semuanya. Aku sama butanya denganmu. Aku baru memimpin desa sejak tahun lalu. Masih banyak yang perlu aku lakukan untuk mendapatkan kepercayaan dan kemampuan penuh dari leluhurku.”
“Aaah…” Atok mengangguk pelan. Ia meneguk sisa kopinya. “Jadi kau masih dukun magang? Masa percobaan?”
Kalua menggaruk kepalanya. “Terserah bagaimana kau menyebutnya. Yang jelas, aku butuh bantuan orang lain. Bantuanmu.”
Atok melengos kesal. Ia melirik mercusuar yang menyala terang. “Hanya sampai pintunya saja. Aku tak mau masuk ke dalam.”
Kalua mengangguk cepat. “Hanya itu yang aku butuhkan.”
***
Jia dibangungkan oleh suara tangis bayinya. Ia menggendong dan mencoba menenangkan. Beberapa menit berlalu, tangisan itu tak kunjung reda. Jia mulai panik. Tangannya meraih handphone dan menekan kontak Reza.
“Halo?” terdengar suara Reza dari speaker.
“Za, si Boy nangis terus gak berhenti. Udah aku gendong, dia udah kenyang juga, AC udah dihidupin, tapi masih nangis.”
“Sudah kau cek popok dan bajunya?” tanya Reza.
“Sudah, popok masih bersih, baju juga masih kering.”
“Mungkin Boy mimpi buruk? Coba kau nyanyikan sesuatu atau putarkan lagu yang menenangkan.”
“Cara itu bisa berhasil?”
“Kau ingin Boy berhenti menangis, kan? Coba saja semua cara.”
Jia patuh. “Akan kucoba setelah ini. Kau masih lembur?”
“Iya.” Jawab Reza tak bersemangat.
“Malam ini… apa kau bisa tidur di sini saja. Temani aku kalau Boy menangis tengah malam lagi.”
Reza berpikir sejenak. “Baiklah, semoga aku bisa selesai lebih cepat.”
“Terima kasih, Za.” Jia menutup teleponnya. Ia membuka aplikasi pemutar musik. Memutar satu lagu instrumental favoritnya. Satu menit… dua menit… tangisan bayi Jia mulai mereda.
“Ternyata kau menyukainya juga?” bisik Jia.
Sampai pertengahan lagu, bayi Jia kembali pulas. Jia ikut hanyut dengan suara melodi piano yang menenangkan. Tubuhnya bergerak mengayun ke kanan-kiri mengikuti tempo lagu. Ia menatap wajah bayinya yang tertidur nyenyak. Kemudian mulut Jia serta merta menyebut satu nama. “Jata.”
***
Among Retu yang mengambil alih pimpinan selama Kalua pergi, membaca surat di tangannya dengan seksama, ditemani para Among Tua yang lain. Di hadapannya ada tamu dua orang laki-laki yang mengaku dari perusahaan kontraktor dan alat berat.
Among Retu geram. “Sudah kukatakan sebelumnya, Bapak-bapak. Kami tidak akan mengijinkan eksplorasi di tambang kami selain dari penduduk kami sendiri.”
Tamu yang berkacamata tersenyum dan berbicara tenang. “Sayang sekali, Among Retu. Kami menyampaikan surat itu bukan untuk negosiasi. Proyek ini sudah berumur sangat lama. Bahkan kami sudah berbicara dengan perwakilan dari desa ini sejak tahun lalu. Ia sangat terbuka dengan potensi pengembangan wilayah ini. Maka dari itu, kesepakatan proyek ini bisa berjalan mulus.”
Para Among Tua saling memandang tak mengerti. Namun Among Retu tahu betul siapa orang yang dimaksud. Angken, marahnya dalam hati.
“Jadi kami hanya ingin menyampaikan rencana proyek ini. Satu bulan lagi, kami akan datang kembali bersama pimpinan proyek dan atasan-atasan kami untuk survey lebih lanjut.” Sambungnya lagi.
Kedua tamu itu berdiri dan memberi hormat pada para Among Tua. “Kami undur diri dulu. Terima kasih untuk sambutan baiknya. Sampai bertemu satu bulan lagi.”
Among Retu meremas surat di tangannya ketika tamu-tamu itu pergi dari pondok.
“Among Retu? Apa-apaan ini? Amongku Kalua tidak pernah mengatakan ini sebelumnya.” Among Sani terlihat panik.
“Ini semua bukan perbuatan Among Kalua.” Among Retu menggeleng. “Aku bahkan yakin Among Kalua sama tidak tahunya seperti kita.”
“Lalu sebenarnya siapa yang memulai semua ini?”
Among Retu menahan marah. “Angken. Ternyata ia sudah merencanakan sejauh itu.”
Para Among Tua terkejut.
“Kapan Among Kalua kembali, Among Retu? Kita membutuhkannya sekarang.” Among yang lain mulai cemas.
Among Retu hanya terdiam. Ia menunduk, mengepalkan tangannya erat-erat berusaha meredam amarahnya meledak. Satu bulan lagi, Amongku. Cepatlah.
***
Setelah perdebatan sengit yang memakan waktu hingga lewat dari tengah malam, akhirnya Atok bersedia menemani Kalua ke mercusuar.
“Aku hanya melakukan ini demi permintaanmu yang konon menyangkut hidup dan mati orang sedesa, Kalua. Semoga alasanmu tidak melebih-lebihkan.” Gerutu Atok sepanjang perjalanan menuju mercusuar. Ia mengarahkan senternya ke kanan-kiri memastikan semuanya aman.
Kalua berjalan di samping Atok dengan perasaan lebih tenang. Ia melirik gerak-gerik Atok. Meskipun hanya diterangi cahaya senter, ia menangkap kecemasan Atok begitu jelas.
“Kau takut gelap? Takut hantu?”
Atok menggeleng. Tangannya menunjuk puncak mercusuar yang masih menyala terang. “Terakhir kali mercusuar sialan ini bertingkah begitu, sebelas tahun yang lalu. Sekarang secara ajaib bisa menyala, karena kedatanganmu ke rumahku.” Badan Atok menggigil kena angin. “Aku hanya takut terseret kena ilmu hitammu itu. Dari rumahku saja, sambil pingsan kau bisa menyalakan kekuatan yang sudah mati. Apa yang akan terjadi ketika kita di puncak nanti?”
“Hei, sudah kubilang aku tidak menggunakan ilmu hitam. Aku hanya meminjam kekuatan para leluhurku. Lagipula aku tidak melakukannya untuk berbuat jahat.”
“Yakin? Membunuh temanmu sendiri tidak termasuk jahat?”
Kalua menghentikan langkahnya. “Dia pengkhianat, Tok. Bukan temanku lagi.” tegasnya.
“Ya tapi sama saja. Kau membunuhnya.” Atok menekankan. “Kurasa kau mendapat perintah dari leluhurmu untuk membunuh siapapun yang menghalangi rencana kalian, kan?” Atok mendekat ke hadapan Kalua. “Seandainya aku tidak mau membantumu kali ini, kau akan membunuhku?”
“Apa-apaan…”
“Sepertinya kau harus sadar diri, Kalua. Pastikan kau tidak menjadi tombak untuk rencana busuk dari leluhurmu.”
Kalua mendorong tubuh Atok. “Apa kau bilang?”
Atok hanya tertawa sinis.
“Leluhurku memiliki tempat tersuci di semesta. Yang mereka lakukan adalah menjaga kehidupan kami tetap seimbang, Tok. Aku yang dipercaya untuk mewakili dan menjaga mereka, Aku!”
“Tapi kau tetap manusia, Kalua! Tubuh dan pikiranmu yang menjaga dua dunia itu. Apa kau bisa memastikan semua keputusanmu tidak condong ke salah satu pihak? Tidak terdistorsi sama sekali?” tantang Atok.
Kalua terdiam.
Atok menunjuk dada Kalua. “Aku bicara begini, sebagai manusia utuh, Kalua. Yang pernah menjadi korban dari dunia dukunmu. Yang pernah nyaris mati karena rencana bodoh seorang pengkhianat dari tempat kalian.” Suara Atok meninggi. “Dan kau lihat sekarang. Ratusan kilometer dari desamu ada orang-orang yang harus menanggung ketidakbecusan duniamu menjaga keseimbangan.”
Keduanya saling beradu tatap.
“Kalau sampai, rencanamu ini membawa korban lagi dari keluargaku, atau siapapun di desa ini. Aku tidak segan-segan membunuhmu, Kalua.” tegas Atok.
Kalua masih menatap mata Atok. Ada ancaman dan kesungguhan di tatapan itu. “Hanya sampai petunjuk berikutnya.” Jawab Kalua. “Setelah itu aku akan pergi dari sini.”
Kalua berjalan meninggalkan Atok. Pintu masuk mercusuar sudah terlihat. Benarkah ada pengkhianat lain? Apakah ada yang terlewat olehku? Apakah aku tidak menyadarinya? Pertikaiannya dengan Atok membuatnya tersadar ada yang janggal dari semua rencana ini.
***
Kartu Kunci
Among Retu mondar-mandir di pondok tetua adat. Suara gemuruh angin semakin membuatnya resah.
“Amongku terlalu lamban.” Gerutunya.
Berkali-kali matanya menatap pintu kayu pondok. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi. “Aku tak punya pilihan lain.”
Among Retu meninggalkan pondok dengan langkah cepat. Sisa hujan lebat malam itu masih menyisakan gerimis dan air yang menggenangi jalanan. Kakinya menyusuri jalur setapak menuju pusat bukit kapur, tempat pintu masuk Bharma.
Kawasan gerbang Bharma yang kini dikeramatkan oleh penduduk dan para tetua adat, membuat Among Retu lebih leluasa dan khusyuk mendatanginya di malam hari. Tidak ada gangguan apapun.
Among Retu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menutup mata.
Sang Leluhur yang diagung
Langkan segala tapak yang dijunjung
Hamba datang termenung
Menanti jawaban yang diagung
Among Retu merapalkan mantranya dalam hati. Kesadarannya berpindah ke dalam Bharma. Di dalam Bharma, Among Retu bersimpuh hormat pada leluhur.
Kau, seharusnya kau tak kemari,
“Mohon ampun, Yang Luhur.” Among Retu menunduk. “Situasi semakin berbahaya untuk kita semua.”
Kau tak percaya dengan Diagung Among Tetua pilihanku?
“Tidak ada jawaban apapun selama Amongku pergi. Aku perlu memastikan semuanya masih baik-baik saja.”
Tidak ada yang perlu tersampaikan melalui dirimu. Pergilah.
“Mohon ampun, Yang Luhur. Aku harus meyakinkan pada para Among Tua dan penduduk bahwa kita bisa mengendalikan keadaan ini. Ini darurat, Yang Luhur.”
Jangan ada korban lagi. Tidak perlu ada nyawa yang sia-sia.
Among Retu hormat lagi. “Tentu saja, Yang Luhur.”
Kesadaran Among Retu kembali ke dunia nyata. Ia menatap gerbang Bharma dengan gelisah.
***
Kalua sampai di puncak mercusuar sendirian. Puncak itu kotor dan usang, jauh berbeda dengan apa yang ia lihat di dimensi lain.
“Bagaimana aku bisa bertemu denganmu lagi, Atok?” gumamnya sambil berpikir mencari cara.
Sementara Atok yang berbentuk manusia menunggu di pintu mercusuar sambil kedinginan. Ia melihat sekitar, sesekali menggosok kedua lengannya. “Dukun sialan… lama sekali.”
Atok mendongak, lampu mercusuar masih menyala. Tidak ada perubahan apapun yang dirasakan, selain langit subuh mulai tampak. Tak lama kemudian Kalua muncul dari pintu mercusuar.
“Sudah selesai? Berhasil?” tanya Atok.
Wajah datar Kalua hanya menggeleng pelan. “Aku tidak mendapatkan apapun.”
Atok jadi ikutan kesal. “Kau yakin kau yang dipercaya leluhurmu? Mengapa mereka tidak memberimu satu petunjuk pun? Petunjuk soal mencariku, bisa kubilang itu sangat sia-sia, Kalua.” Atok berjalan meninggalkan Kalua.
“Perkataanmu selalu menyebalkan, tapi kali ini kurasa kau benar.” Mau tak mau Kalua sepakat dengan Atok kali ini. “Untuk apa aku jadi Among Penjaga kalau begini caranya.” ucapnya geram.
Langit pagi sudah terbentang sempurna ketika Atok dan Kalua sampai di teras rumah. Terlihat Moli dan ibu yang sedang duduk di ruang tengah memegang cangkir masing-masing.
Kalua berbisik pada Atok. “Itu ibumu? Beliau sakit?”
Atok mengangguk.
Kalua memberi hormat pada ibu. “Maafkan aku jika mengganggu sejak semalam.”
Ibu hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, baru kali ini Ibuk melihat Atok punya teman.”
“Bagaimana? Sudah mendapatkan petunjuk?” tanya Moli.
Atok dan Kalua menggeleng bersamaan.
“Sepertinya aku harus kembali pulang ke desa. Mungkin dengan begitu aku bisa mempersiapkan semuanya lebih matang.” Kalua duduk di hadapan ibu dan menggenggam tangan kanan ibu. “Terima kasih saya sudah diijinkan untuk singgah di sini, Ibu. Saya pamit dulu.” Kedua tangan Kalua membungkus telapak tangan ibu dan ia memejamkan mata. Hening cukup lama.
Atok, Moli, dan ibu saling menatap kebingungan.
Beberapa detik kemudian Kalua membuka matanya dan tersenyum.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Atok.
“Mendoakan kesembuhannya.”
“Te-terima kasih.” Ucap ibu pelan.
Kalua beranjak dan meraih ranselnya yang tergeletak di sudut ruang tengah. “Soal mercusuar itu…” Ia menatap puncak mercusuar. “Aku selalu mengira bahwa lampunya yang hidup kembali adalah pertanda bahaya.” Ia memohon pada Atok. “Bisakah aku tetap berkontak denganmu? Siapa tahu mercusuar itu bertingkah tidak biasa lagi. Aku harus membantu kalian.”
“Sejujurnya aku tidak mau berurusan denganmu lagi, Kalua. Aku tidak ingin…”
“Tok…” sela ibu. “Jangan begitu.”
Atok menghela napas. “Ah dasar dukun magang!” rutuknya sambil masuk ke kamar.
Ia meraih jaket dari gantungan baju, merogoh saku dan mengeluarkan handphonenya. Tiba-tiba ada secarik kartu nama yang terjatuh. Kening Atok berkerut dan mengambil kartu nama itu.
“Oh kartu nama si Reza Arthamevia…” Atok memperhatikan kartu di tangannya sekali lagi. Seperti melewatkan sesuatu yang penting. Lalu ia teringat kejadian bersama Reza di rumah sakit. Pikirannya langsung mengerucut saat ia melihat bayi yang ditunjuk Reza di depan dinding kaca, membawa ia untuk mengingat sebaris nama ibu yang tertulis di box bayi itu.
Atok membelalakkan mata. “KALUAAA!” ia bergegas kembali ke ruang tengah.
Seisi ruang tengah terkejut dengan teriakan Atok yang tiba-tiba.
“Ada apa, Tok?”
Atok langsung menyodorkan kartu nama Reza. “Satu-satunya nama Jia yang kutahu, adalah sahabat orang ini. Orang ini menemani sahabatnya sedang melahirkan ketika aku di rumah sakit menemani ibu.” Atok mengatur napasnya. “Sesuai dengan katamu, kau bilang istrimu baru saja melahirkan…”
“Bisa jadi dia adalah Jia yang kucari, istriku.”
Atok mengangguk. “Kau harus menemui orang ini.”
Kalua menatap Atok sungguh-sungguh. “Kita harus menemuinya.”
Atok menganga. “Kau benar-benar dukun keparat…”
***
